.jpeg)
Mataram, 6 Agustus 2026 – Sebagai bentuk kepedulian terhadap pelestarian seni dan budaya daerah, Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) FKIP Universitas Mataram menyelenggarakan kegiatan bertema “Pengenalan Wayang Sasak sebagai Media Pembelajaran Berbasis Kearifan Lokal dalam Upaya Pelestarian Budaya Lokal di Sekolah Dasar” pada Kamis, 6 Agustus 2026, bertempat di SDN 142 Mataram. Kegiatan ini diikuti oleh kepala sekolah dan guru-guru sekolah dasar di Kota Mataram sebagai upaya memperkuat peran pendidikan dalam menjaga dan melestarikan budaya lokal di tengah perkembangan zaman.
Kegiatan ini dilaksanakan sebagai respons terhadap semakin berkurangnya ruang pengenalan budaya tradisional kepada generasi muda. Wayang Sasak sebagai salah satu warisan budaya masyarakat Lombok memiliki nilai-nilai luhur yang dapat dijadikan sumber belajar sekaligus sarana pendidikan karakter bagi peserta didik. Oleh karena itu, Tim PKM PGSD FKIP Universitas Mataram berinisiatif memperkenalkan Wayang Sasak sebagai media pembelajaran berbasis kearifan lokal yang relevan dengan kebutuhan pendidikan masa kini.
.jpeg)
Narasumber eksternal, Ki Ageng Sadaruddin, seorang tokoh dan praktisi Wayang Sasak, menyampaikan materi mengenai nilai-nilai yang terkandung dalam pewayangan Sasak. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa Wayang Sasak tidak hanya berfungsi sebagai seni pertunjukan, tetapi juga mengandung berbagai nilai pendidikan, seperti kejujuran, tanggung jawab, keberanian, keteladanan, gotong royong, penghormatan kepada orang tua, serta nilai-nilai religius yang sangat penting untuk ditanamkan kepada generasi muda.
Selanjutnya, Muhammad Tahir, dosen PGSD FKIP Universitas Mataram, memaparkan materi mengenai pemanfaatan Wayang Sasak sebagai media pembelajaran di sekolah dasar. Ia menjelaskan bahwa cerita, tokoh, dan simbol-simbol yang terdapat dalam Wayang Sasak dapat diintegrasikan ke dalam berbagai mata pelajaran untuk menciptakan pembelajaran yang kontekstual, menarik, dan bermakna. Menurutnya, penggunaan media berbasis budaya lokal dapat meningkatkan keterlibatan siswa sekaligus memperkuat identitas budaya mereka.

Pada sesi berikutnya, Dr. Nurul Kemala Dewi, M.Sn., menyampaikan materi tentang estetika Wayang Sasak. Ia mengulas berbagai aspek artistik yang terkandung dalam bentuk visual wayang, mulai dari karakter tokoh, ragam hias, warna, hingga simbol-simbol budaya yang merepresentasikan nilai dan filosofi masyarakat Sasak. Pemahaman terhadap aspek estetika ini diharapkan dapat meningkatkan apresiasi guru terhadap seni tradisional dan mendorong lahirnya kreativitas dalam pengembangan media pembelajaran berbasis budaya.
Kegiatan yang dipandu oleh Muhammad Irfan selaku moderator berlangsung dinamis dan interaktif. Para peserta menunjukkan antusiasme tinggi selama sesi diskusi, terutama terkait strategi mengintegrasikan budaya lokal ke dalam pembelajaran di sekolah dasar. Berbagai pertanyaan dan gagasan yang muncul menunjukkan adanya kesadaran bersama bahwa sekolah memiliki peran strategis dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya daerah.
.jpeg)
Tim PKM PGSD FKIP Universitas Mataram menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat. Melalui kolaborasi antara akademisi, praktisi budaya, dan para pendidik, diharapkan Wayang Sasak dapat terus dilestarikan serta dimanfaatkan sebagai media pembelajaran yang mampu menanamkan nilai karakter, memperkuat literasi budaya, dan menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas lokal.
Melalui kegiatan ini, PGSD FKIP
Universitas Mataram menegaskan komitmennya untuk terus mendukung pelestarian
budaya lokal melalui dunia pendidikan. Diharapkan para kepala sekolah dan guru
dapat menjadi agen pelestarian budaya dengan mengintegrasikan nilai-nilai dan
kearifan lokal Sasak dalam proses pembelajaran, sehingga warisan budaya daerah
tetap hidup dan dikenal oleh generasi masa depan.